Random Image

“Ngopi Joss”, menata revolusi ala Komunitas SLiMS

Posted by Komunitas SLiMS March 19, 2012
281 views Categories: Berita, Kegiatan

Suatu waktu, pernah ada seorang teman bertanya, “Wah, nek nge-SLiMS meski jam 12 malam tetap jalan ya Pur?”. Saya jawab saja “iya, memang biasanya seperti itu, malam-malam di Kopi Joss selatan Tugu Jogja”. Mau? teeeet tooot…..

Hal tersebut di atas, akhirnya terjadi lagi pada tanggal 17 Maret 2012. Saat itu, kebetulan sekali pak Hendro Wicaksono dan Pak Arie Nugraha berada di Jogja. Akhirnya mereka berdua bersama pak Eddy Subratha dan saya (Purwoko) meluncur dari kawasan Club House UIN Sunan Kalijaga ke area Kopi Joss sekitar jam 8 malam. Ternyata di area Kopi Joss-nya pak Man sudah menunggu rekan-rekan dari komunitas SLiMS Jogja, ada Heri Abi, Muhtarom, Tarto, Aziz. Kemudian setelah kami datang, datang pula mas Budhi Santoso, Maryanto, Hadi Pranoto, Fiqru Mafar, Subhan Haris+Istri. Tidak disangka pula, hadir seorang pegiat SliMS yang berasal dari Ambon, namanya Haris. Beliau ini sedang membangun katalog induk beberapa perpustakaan di Ambon dengan domain http://ambonlib.net. Belakangan diketahui, bahwa selain katalog AmbonLib.Net, mas Haris juga membangun sistem pencarian terpadu ke semua SLiMS yang online di internet. Aplikasi pencarian terpadu tersebut ada di url http://search.ambonlib.net.

Sebelum ngobrol mengenai SliMS dan segala sesuatunya, ada acara perkenalan singkat yang saya lakukan terutama untuk pak Haris dari Ambon. Selanjutnya ngobrol kesana-kemari dibarengi dengan menikmati sajian Kopi Joss serta “ubo rampe” ala angkringan Jogja. Terdapat sego kucing, tempe goreng, sate kerang, sate ayam, lumpia, telo goreng, apem, kopi susu, kopi jahe dan semacamnya. Sebagian besar awak komunitas yang datang memesan Kopi Joss sebagai sajian minumnyaa. Dinginnya malam, dibalut dengan suasana khas Jogja menambah semarak acara ngobrol bareng ini, apalagi dengan diselingi para pengamen yang silih berganti.

Pada acara ini, pak Hendro sempat memberitahukan tentang acara SDD/Senayan Developers Day yang akan dilaksanakan pada liburan panjang akhir bulan Maret 2012. Selain itu juga diumumkan beberapa projek “revolusioner” SLiMS dan beberapa aplikasi yang terkait. Sssssst, informasi apa saja aplikasi tersebut masih dirahasiakan di blog ini yak.. :) Emmm, oke dah saya kasih satu bocoran. KopiJoss76, merupakan sebuah paket aplikasi yang akan muncul dalam kaitannya dengan projek SLiMS. KopiJoss76, 76=TG=Tugu, jadi KopiJoss76=Kopi Joss di Tugu Jogja. Aplikasi ini adalah paketan yang berisi UCS SliMS, SliMS itu sendiri, Drupal yang didalamnya terdapat plugin SLiMS. Dengan KopiJoss76 diharapkan perpustakaan yang ingin membangun, atau belajar membuat website yang terintegrasi dengan SliMS dapat terfasilitasi.
Aplikasi lain? ditunggu launchingnya yak..
Ngobrol juga menyentuh hal-hal terkait teknis SLiMS. Beberapa usulan muncul, mulai dari katalog buku, membuat item otomatis (berdasar jumlah), barcode generator, penyempurnaan ucs, desain template, perbaikan bug, penambahan alamat pada lokasi koleksi di ucs, delete image cover, dan lain sebagainya. Ngobrol juga merambah pada etika Opensource. Pak Arie dan Hendro menekankan kembali tentang taat asas pada GPL v.3, khususnya terkait penggunaan SLiMS.

Mas Haris dari Ambon, juga sempat bercerita dan menunjukkan AmbonLib.Net yang sedang dia bangun. Menurutnya, di Ambon sudah ada beberapa perpustakaan yang mulai menggunakan SLiMS, rencananya beliau akan menyatukannya di AmbonLib.Net.

Berbagai pengalaman yang menyenangkan dan kadang membuat gelak tawa muncul dari masing-masing pribadi pegiat SliMS. Ada yang mengaku install slims seharian di bayar 200.000, ada yang di ajak makan sate sebagai tanda terimakasih dan pengalaman menarik lainnya.

Sebagai sebuah tiluna Manajemen Perpustakaan, SLiMS dibangun dengan mengedepankan komunitas sebagai basis pengembangan. Atas dasar hal tersebut, beberapa jargon SliMS kemudian muncul.
SLiMS, Librarian Social Network
SLiMS, tiluna ramah lingkungan
SLiMs, library system for library freedom

Adalah sesuatu yang di luar dugaan, SLiMS dapat menjadi perekat komunitas yang lahir di beberapa daerah. Sebagaimana di Jogja, komunitas SLiMS bangun dengan semangat berbagi dengan tidak didasari oleh kepentingan sesaat. Komunitas SLiMS berusaha bangkit dengan semangat mandiri secara bersama-sama.

Pukul 22:30, para pegiat Slims mulai meninggalkan area KopiJoss. Sebelum bubar, disempatkan foto bersama.

Foto: Budhi Santoso

Teks dan Video: Purwoko

Read More | 2 Comments →

Reportase: Sinau Bareng Linux dan SLiMS, 25 Februari 2012

Posted by Komunitas SLiMS February 27, 2012
195 views Categories: Berita, Kegiatan, Ngoprek Bareng

Sebagai kelanjutan dari Seminar minggu sebelumnya, panitia dari KSL UIN Sukijo menyelenggarakan sinau bareng Linux dan SliMS. Kegiatan ini kembali didampingi oleh tim KSL dan Komunitas SLiMS Jogja. Peserta yang datang pada acara ini sangat bervariasi; mulai dari mahasiswa, pustakawan serta umum. Bahkan tampak mahasiswa Ilmu Perpustakaan UNDIP, UNS dan juga UIN SUKA. Tampak pula pegiat SLiMS dari Jepara (Hartoyo) dan para pustakawan sekolah di Jogja yang tertarik dengan SLiMS.

Sesi pertama, sekitar pukul 08.00 sd 13.00 (12.00-13.00 break sholat dhuhur) diisi oleh KSL UIN Sukijo dengan materi instalasi Linux Ubuntu 10.04 (Lucyd Linx) dengan menggunakan Wubi. Ubuntu dipilih karena mudah digunakan dan merupakan distro paling banyak digunakan pegiat Linux. Pada sesi ini, KSL juga menyediakan repo lokal yang dipakai oleh peserta sebagai sarana repo untuk update paket dan install paket. Pada sesi install paket, peserta diberi penjelasan sekaligus praktek bersama instalasi apache, mysql, php dan phpmyadmin pada linux. Tidak hanya peserta yang menjadi audiens sesi ini, beberapa pegiat SLiMS Jogja juga ikut nimbrung. Hal ini disebabkan oleh keinginan mereka untuk ikut juga belajar Linux secara mendalam. Salah satu pegiat SliMS jogja bahkan mengakui bahwa ada beberapa hal terkait Linux yang baru diketahui setelah ikut acara ini.

Sesi berikutnya adalah instalasi SLiMS pada linux Ubuntu 10.04. Sesi ini diampu oleh para pegiat SliMS Jogja: Heri Abiburachman Hakim, Muhtarom, Eddy Subratha, dan juga Abdoel Aziz. Karena para peserta bervariasi sistem operasi yang digunakannya, maka sesi SLiMS dibagi dua. Pertama adalah instalasi SLiMS di Linux dan pada bagian lain ada belajar bersama SLiMS pada Windows.

Pada sesi install SliMS di Linux muncul beberapa masalah yang justru diharap dapat membuat peserta memahami apa itu Linux dan bagaimana instalasi SLiMS di Linux. Misalnya masalah hak akses file dan folder serta hak kepemilikan file dan folder. Peserta dikenalkan dengan perintah konsole CHOWN, CHMOD, LS dan lain sebagainya. Pengenalan ini sebelumnya juga dibahas pada sesi Linux secara lebih jauh.

Alhamdulillah, sesi instalasi SLiMS di Linux selesai dan semua peserta yang membawa laptop yang sebelumnya diinstall Linux berhasil diinstall SLiMS. Pada bagian lain, belajar bersama SLiMS pada windows juga berjalan lancar.

Slide presentasi pelatihan Linux silakan unduh di: Install Ubuntu dengan Wubi (121)
Untuk cara install SLiMS di Linux, silakan unduh dokumentasi SLiMS di http://slims.web.id

Read More | No Comments →

Belajar Bareng Linux & SLiMS 25 Feb 2012

Posted by Komunitas SLiMS February 24, 2012
193 views Categories: Berita, Kegiatan

Ayo ikutan..

Sebagai rangkaian dari acara seminar linux dan slims pada tanggal 18 Feb 2012 yang lalu (http://blog.jogjalib.net/2012/02/reportase-kegiatan-seminar-dan-pelatihan-18-feb-2012/), panitia kembali melaksanakan acara serupa namun dalam bentuk pelatihan.

Pelatihan ini terbagi menjadi pelatihan Linux dan pelatihan SliMS, dilaksanakan tanggal 25 Feb 2012 jam 09.00 sd 15.30 WIB.

Undangan terlampir:

Read More | 1 Comment →

Reportase Kegiatan: Seminar dan Pelatihan 18 Feb 2012

Posted by Komunitas SLiMS February 20, 2012
274 views Categories: Berita, Ngoprek Bareng, Teknologi

Sabtu 18 Februari 2012 komunitas SLiMS Jogja punya dua gawe. Pertama adalah seminar Linux+SLiMS di Fakultas Adab UIN SUnan Kalijaga (http://blog.jogjalib.net/2012/02/seminar-linuxslims/), dan kedua adalah pelatihan SLiMS untuk pustakawan di Stikes Bethesda Jogjakarta.

Acara pertama merupakan gawean bareng antara KSL UIN Sunan Kalijaga, BEM IPI UIN SUnan Kalijaga dan juga Komunitas SLiMS Jogja. KEgiatan ini berlangsung di Ruang Teatrikal Fakultas Adab. Hadir dalam acara ini mahasiswa, pustakawan, pegiat Linux baik dari Jogja maupun luar Jogja. Tercatat mahasiswa Prodi Ilmu Perpustakaan UNDIP Semarang turut serta dalam acara ini.

Sesi pertama diisi pengenalan Linux dan Opensource oleh Mas Setia Budi dan Estu. Beliau berdua berasal dari KPLI Jogja dan KSL UIN SUnan Kalijaga. Pada sesi ini disampaikan kenapa memilih opensource, khususnya kenapa Linux? Aspek yang ditekankan adalah legal dan halal, serta stabil dan bebas virus.

Sesi kedua adalah pengenalan SLiMS oleh Purwoko. File presentasi Purwoko dapat diunduh di sini Presentasi Seminar (2978).

Acara kedua adalah pelatihan SLiMS di Perpustakaan Stikes Bethesda Jogjakarta. Kebetulan Stikes Bethesda hendak migrasi dari sistem automasi perpustakaan sebelumnya ke SLiMS. Materi pada pelatihan ini adalah instalasi, bibliografi, membership dan sirkulasi. Dilanjutkan dengan perawatan, backup data dan juga audit migrasi.

Foto lengkap ada di FB Komunitas SLiMS Jogja

Read More | 1 Comment →

Reportase Rembug Bareng bersama ATPUSI+LKPI+ALUS+Komunitas SLiMS

Posted by Komunitas SLiMS February 06, 2012
235 views Categories: Berita, Kegiatan

Pada tanggal 4 Februari 2012 yang lalu, empat organisasi dan juga komunitas yang berkaitan dengan perpustakaan di Jogja duduk bersama, berembug bersama para audiens tentang bagaimana mengembangkan minat baca di perpustakaan sekolah pada era informasi. Acara ini merupakan rangkaian acara Jogja Itoe Boekoe yang digelar oleh IKAPI di Mandala Bhakti Wanitatama, 1-7 Februari 2012.



Keempat komunitas mengirimkan wakilnya menjadi narasumber pada acara ini, ATPUSI di wakili oleh Pak Halim, Heri Abi dari SLiMS, Muklis dari ALUS dan LKPI diwakili oleh Supriyanto. Semua membahas “membaca” dikaitkan dengan peran organisasinya masing masing. Acara ini dimoderatori oleh Arsidi, SIP yang merupakan ketua ATPUSI Jogjakarta.



Dengan lihat, sang moderator juga mengajak audiens untuk ikut menyampaikan uneg-unegnya. Tercatat beberapa audiens ikut berkomentar, baik dari perpustakaan perguruan tinggi, mahasiswa, perpustakaan SD dan lain sebagainya.

Ada peserta yang menyatakan bahwa ketika ingin mengembangkan perpustakaan terbentur pada aspek kebijakan pimpinan, adapula yang menyayangkan terputusnya keberlangsungan pengelolaan perpustakaan pada tiap tingkatan di sekolah. Ketika SD murid mendapatkan perpustakaan yang “hidup” namun ketika SMP mereka kaget karena perpustakaannya tidak berjalan sebagaimana mestinya.




Pada sesi akhir, panitia pameran berkenan ikut bicara. Panitia menanggapi selentingan tentang mahalnya buku. Beliau mengatakan bahwa buku belum menjadi kebutuhan pokok, masih kalah dengan bensin atau pulsa. Hal ini disampaikan sambil mengajak untuk menjadikan buku sebagai kebutuhan pokok.

Pada kesempatan ini, melalui moderator juga dibagi doorprize berupa 10 CD master SLiMS. Para peserta juga mendapatkan stiker SLiMS dan JogjaLib.NET. Peserta datang dari berbagai pelosok daerah, mulai dari kawasan Jogjakarta sendiri, Bantul, Sleman, Klaten, Magelang bahkan dari Purworejo.

Para peserta juga dipersilakan untuk mengunjungi stand perpustakaan yang dihuni oleh beberapa komunitas di atas.


Para Pembicara+Moderator
Para Peserta
Suasana Stand
Akhir Acara

Foto: Eddy Subratha
Video: Purwoko

Read More | 3 Comments →

Seminar Linux+SliMS, 18 Februari 2012

Posted by Komunitas SLiMS February 05, 2012
316 views Categories: Berita, Kegiatan

Pegiat SLiMS Jogja, Purwoko diberi kesempatan untuk berbicara pada seminar yang diselenggarakan oleh KSL UIN + BMJ IPI UIN Sukijo. Acara akan dilangsungkan pada Sabtu, 18 Februari 2012 di Teatrikal F. Adab UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta.Pendaftaran online dapat dilakukan melalui http://jogjalib.net/seminar dari 6-16 Februari 2012, dengan arga tiket Rp15.000 (mahasiswa) dan Rp30.000 (umum) dengan berbagai fasilitas.
Tema yang diangkat adalah:

“Linux dan SLiMS, paduan apik opensource untuk kemajuan dunia perpustakaan”

Pada seminar ini akan diisi oleh Setia Budi (KSL UIN), Estu Fardani (KPLI Jogja) dan Purwoko (SLiMS Jogja).

Selain semiar, pada tanggal 25 Februari juga akan diadakan belajar bersama instalasi Linux menggunakan wubi, sehingga para peserta yang masih takut menginstall linux tidak ada alasan untuk merasa takut. Dengan wubi, instalasi Linux dapat dilakukan dengan mudah dan tanpa membuat partisi baru, serta dapat dihapus dengan mudah.

Bagi yang tertarik, daftar di http://jogjalib.net/seminar

Poster kegiatan di bawah ini:

Poster Seminar Linux+SLiMS

Read More | 4 Comments →

Reportase Sinau bareng 21 Januari 2012 #SLiMS Jogja

Posted by Komunitas SLiMS January 24, 2012
121 views Categories: Berita, Kegiatan

Terimakasih kepada pihak SMA Muhammadiyah 1 Jogjakarta, Perpustakaan dan para pustakawan  SMA Muhammadiyah 1 Jogja, para pegiat SLiMS yang berkenan datang (Solo, Purworejo, Wonogiri, dan wilayah jogja pada umumnya).

===================

Acara kesekian kali komunitas SLiMS Jogjakarta kali ini digelar di Perpustakaan SMA Muhammadiyah 1 Jogjakarta (MUHI).  Memasuki perpustakaan MUHI seperti masuk perpustakaan sekolah di luar negeri, selain karena luas perlengkapan dan fasilitas yang adapun lengkap. Termasuk penggunaan SliMS dengan berbagai inovasinya.

Inovasi itu pulalah yang dipaparkan sebagai pengantar dalam belajar bersama kali ini.

Acara dimulai pukul 12.30, tepat setelah  sholat Dhuhur dilaksanakan secara berjamaan di masjid MUHI. Menjadi moderator pada acara ini adalah mas Heri Abi (Pustakawan ISI).  Dalam sambutannya, Kepala SMA MUHI memberikan ucapan selamat datang dan mempersilakan para hadirin untuk belajar bersama di perpustakaan MUHI. Selain itu beliau juga mengungkapkan pentingnya perpustakaan sebagai sebuah sarana belajar, bukan hanya pada masa sekarang namun sejak jaman dahulu. Purwoko, mewakili komunitas SLiMS Jogja menyampaikan terimakasih pada semua hadirin yang berkenan datang pada acara belajar bersama di MUHI “Selamat datang para peserta sekalian di kampus pergerakan, sebuah kampus yang dibangun dengan semangad Al-Ma’un ala Muhammadiyah, sebuah pergerakan yang dibangun oleh kyai Dahlan” ungkap Purwoko. “Hidup-hidupilah perpustakaan dan jangan mencari penghidupan dari perpustakaan” lanjutnya sebagaimana memodifikasi semboyan kyai Dahlan tentang Muhammadiyah. Sebelum menutup sambutan, Purwoko menyempatkan diri untuk mengenalkan personil SDC yang baru, yaitu mas Eddy Subratha yang juga merupakan alumni SMA Muhammadiyah 1 Jogjakarta. Mas Eddy bergabung di SDC sejak Januari 2012. Sebagaimana diketahui, mulai Januari 2012 ada penambahan 2 personil SDC. Selain mas Eddy, bergabung pula dalam SDC mas Indra Sutriadi Pipii dari Kotamobagu Gorontalo.




Acara berikutnya adalah pemaparan inovasi SLiMS oleh pak Maryanto dari tim TI MUHI. Pak Maryanto memaparkan bahwa SLiMS dipilih karena SLiMS dapat menjanjikan perkembangan yang tidak begitu saja didapatkan denga mudah dari sistem sebelumnya. Bahkah di MUHI, laporan di SLiMS telah dikembangkan sesuai standar pelaporan perpustakaan sekolah. Selain itu data member SLiMS dan PAS (Paket Aplikasi Sekolah) telah dapat di syncronize.

Acara belajar bersama ini dibagi dua, pemula dan lanjutan. Pemula mempelajari cara menginstal dan mengenal modul-modul dalam SLiMS, sedangkan kelas lanjutan mempelajari modifikasi dan trouble shooting SLiMS.

Muncul beberapa masalah yang diungkap pada kelas lanjutan:

  1. import data anggota, tanggalnya tidak ikut masuk
  2. print label dan kartu, garis tidak ikut tercetak
  3. sirkulasi tidak jalan
  4. upgrade dong
  5. kartu dua sisi
  6. mempertebal label
  7. dan berbagai masalah lainnya



Acara berakhir kurang lebih pukul 15.45. Sebelum acara berakhir ada salah seorang peserta yang berminat membaw even belajar bareng ini di institusinya, yaitu di sebuah perpustakaan universitas swasta ternama di Jogja. Komunitas sangat berterimakasih pada pihak yang berminat pada acara ini, baik ditempati atau ikut bergabung.

Semoga sukses.

Read More | 15 Comments →

Workshop SLiMS di Universitas Ma Chung

Posted by Komunitas SLiMS April 11, 2011
72 views Categories: Berita, Kegiatan

Tanggal 9 April kemarin, Purwoko yang merupakan salah satu personil SDC bagian projek dokumentasi yang juga koordinator komunitas SLiMS Jogjakarta, menjadi narasumber dalam workshop SLiMS yang diselenggarakan di Universitas Ma Chung Malang.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh perpustakaan Ma Chung dan didukung oleh pihak Rektorat, FPPTI Jawa Timur dan juga Perpustakaan Kota Malang. Hadir dalam kegiatan ini tamu undangan diantaranya: Ketua FPPTI Jawa Timur, Rektor UMC dan Wakil Rektor UMC, Kepala Perpustakaan Unibraw, Kepala Perpustakaan Kota Malang.

Peserta pelatihan ini sedikitnya berjumlah 90-an orang dari berbagai institusi, baik sekolah, perguruan tinggi, seminari, individu dan lain sebagainya, yang berasal dari Malang, Surabaya maupun Bali.  Singkatnya waktu, membuat pemateri meringkas materi hanya pada install, bibliografi, membership dan sirkulasi. Pemateri juga memberikan waktu 15 menit akhir untuk sesi tanya jawab.

Dalam sesi tanya jawab ini, berbagai pertanyaan peserta muncul. Misalnya,

“Jika sudah menggunakan software lain, apakah dimungkinkan migrasi?”,

“Apakah hak akses tiap pustakawan dapat dibatasi sesuai area kerjanya?”,

“Apakah jika sudah menggunakan senayan stable 12 dapat diupgrade ke stable14/terbaru?”,

“Bagaimana memperbesar kapasitas upload file di attachment?”,

“Apakah dalam SLiMS ada fitur cetak katalog?”

dan berbagai pertanyaan lainnya.

Selain tanyajawab, narasumber juga bercerita tentang perkembangan komunitas SLiMS Jogjakarta. Untuk membangun komunitas SLiMS, tidak perlu dana besar. Cukup dengan kepercayaan antar personil dan digerakkan dengan model kultural. Pembangunan union catalog juga menjadi agenda yang diharapkan bisa dilaksanakan oleh komunitas. Dengan adanya katalog induk ini, maka tiap unsur komunitas merasa memiliki sebuah produk dari komunitasnya. Inilah yang akan menjadikan perekat dari kegiatan berkomunitas. Kegiatan Komunitas SLiMS juga tidak sekedar berkaitan dengan teknologi, namun juga dapat mengkaji hal yang lebih luas pada ilmu perpustakaan dan informasi. Misalnya literasi informasi, manajemen perpustakaan, pengembangan koleksi, kerjasama perpustakaan dan lain sebagainya.

Komunitas SLiMS Jawa Timur mempunyai dua basecamp, Universitas Widya Mandala dan Universitas Ma Chung. Kedua wilayah ini memngkoordinir dua bagian yang berbeda di wilayah Jawa Timur.

Hal yang menarik dan patut dihargai adalah komunitas SLiMS Jawa Timur juga lihai dalam menjalin kerjasama saling menguntungkan antara perguruan tinggi (yang diperlihatkan dengan dukungan resmi dan kehadiran rektor Ma Chung), perpustakaan perguruan tinggi (diperlihatkan dengan hadirnya FPPTI) serta komunitas Opensource SLiMS sendiri. Bahkan di Ma Chung, Perpustakaan UMC menyediakan ruang khusus untuk tempat berkumpulnya komunitas SLiMS Jawa Timur, serta mengajak mahasiswa Sistem Informasi untuk “nimbrung” dalam kegiatan berbau opensource ini.

Perpustakaan UMC sendiri menggunakan SLiMS untuk pengelolaan koleksi jurnal digitalnya.

bravo Komunitas SLiMS…

Read More | No Comments →

Pembentukan Komunitas Senayan (SLIMS) Jawa Barat

Posted by Komunitas SLiMS January 25, 2011
74 views Categories: Berita, Kegiatan

Sumber Blog Murad Maulana

Bandung, 22 Januari 2011- Mungkin anda pernah mendengar kata “Senayan” atau “SLIMS“? atau coba anda ketikan kata kunci Senayan misalnya di search engine Google.com atau Yahoo.com, maka akan terpampang di urutan pertama atau kedua dengan tulisan: “Senayan | Open Source Library Management System”. Senayan atau yang di singkat SLIMS ini adalah aplikasi atau perangkat lunak open source untuk automasi perpustakaan. Perangkat lunak ini dapat di unduh dan dimanfaatkan secara gratis. Hingga saat ini, Senayan versi terakhir telah direlease Senayan 3 Stable 14 dan Portable Senayan 3.13.

Dalam ranah bidang kerja perpustakaan, khususnya yang berkaitan dengan perangkat lunak open source untuk automasi perpustakaan, mungkin nama Senayan sudah membumi di negeri Merah putih ini. Lantas sejauh mana Senayan sudah dimanfaatkan oleh perpustakaan-perpustakaan di Indonesia atau bahkan di luar negeri sekalipun? salah satu pertanyaan tersebut telah disinggung oleh Lead Developer Senayan, Hendro Wicaksono ketika menghadiri acara Pembentukan dan Belajar Bareng SLIMS Jawa Barat (PKSJB). Menurut alumni Fakultas Sastra UI ini, Senayan sudah digunakan diberbagai perpustakaan-perpustakaan di Indonesia dengan jumlah berkisar 168 perpustakaan, “itu menurut data kami yang tercatat, tentu saja masih banyak lagi perpustakaan-perpustakaan yang sudah memanfaatkan senayan yang belum tercatat,” tandas Hendro Wicaksono ketika menjadi pemateri di acara tersebut. “Aplikasi perpustakaan senayan (SLIMS) tidak hanya digunakan di Indonesia saja, melainkan beberapa negara seperti Spanyol, Jerman, Thailand telah memanfaatkannya,” sambungnya.

Kini secara resmi telah tebentuk Komunitas SLIMS Jawa Barat pada tanggal 22 Januari 2011 bertempat di Jl. Dipati Ukur Kampus Universitas Padjajaran Bandung. Jumlah peserta yang hadir ada sebanyak 25 orang dengan dihadiri oleh dua developer SLIMS yaitu Hendro Wicaksono dan Arif Syamsudin. Acara di mulai pukul 13.00 s/d 16.00 WIB. Dalam acara tersebut hadir pula System Engineering Primurlib.net dan pegiat SLIMS Priangan Timur Tasikmalaya, Asep Muhammad Fahrus dan rekan. Peserta yang hadir diantaranya terdiri dari pustakawan perpustakaan umum, khusus dan sekolah, mahasiswa S1 dan S2 Ilmu Informasi dan Perpustakaan Universitas Padjajaran, Mahasiswa Unsil dari Tasikmalaya (pegiat SLIMS Priangan Timur). Dari semua peserta yang hadir tersebut beberapa diantaranya adalah sebagai pengguna advanced SLIMS dan juga ada yang mengaku sebagai pemula, ujar dari salah satu peserta yang berasal dari mahasiwa Ilmu Informasi dan Perpustakaan Unpad, ketika pada sesi perkenalan.

Komunitas Senayan (SLIMS) Jawa Barat

Acara dibuka oleh pustakawan dari Indramayu Murad Maulana yang kemudian disambung dengan materi oleh Hendro wicaksono. Bahasan materi mencakup perkenalan tentang Senayan seperti sejarah dibuatnya software senayan, release dari pertama kali hingga sekarang, dan beberapa masukan-masukan dari developer SLIMS tentang komunitas SLIMS Jawa Barat yang akan dibentuk. Menurut beliau dikatakan bahwa apabila sebuah komunitas agar tetap solid dan maju maka harus dilandasi prinsip idealisme, dalam hal ini kesamaan visi bersama dalam memajukan dunia perpustakaan yaitu salah satunya dengan pemanfaatan SLIMS. Contoh kongkrit yang sudah berjalan seperti Komunitas Slims Jogja, tandas orang yang pernah mengembangkan Igloo OpenSource ini.

Acara selanjutnya sesi tanya jawab antara peserta dengan Developer SLIMS seputar trik, trik singkat dan troubleshooting. Kemudian disusul dengan diskusi komunitas dan penunjukan koordinator SLIMS Jawa Barat. Koordinator terpilih adalah Pustakawan dari Rumah Sakit Cicendo, Bagus Ramdan. Dalam sambutannya ketika terpilih menjadi Koordinator SLIMS mengatakan bahwa, Dengan terbentuknya Komunitas SLIMS ini semoga akan menjadi wadah komunikasi sekaligus pembelajaran teknologi informasi bagi pengguna SLIMS di Jawa Barat dan dalam waktu dekat sang koordinator berjanji secepatnya akan dibuat program kerja atau atau agenda SLIMS Jawa Barat di tahun 2011 ini. Isu yang santer akan secepatnya di usung adalah penunjukan sekertaris, bendahara dan Humas selain dari sosialisasi Senayan ke berbagai perpustakaan dan pembangunan katalog bersama di seluruh perpustakaan Jawa Barat.

Di ujung acara tepat pukul 16.00 WIB, sebagai simbol telah diresmikannya Komunitas SLIMS Jawa Barat, panitia membagikan hadiah buku kepada peserta yang berasal dari daerah terjauh seperti dari peserta dari Perpustakaan Umum Kabupaetn Bekasi dan perwakilan dari Pegiat SLIMS Priangan Timur Tasikmalaya, masing-masing 1 eksemplar.

Semoga dengan terbentuknya Komunitas ini, masa depan perpustakaan-perpustakaan khususnya di wilayah Jawa Barat akan semakin maju dan berkembang dalam upaya mendukung penerapan teknologi informasi perpustakaan yang handal, tepat dan berdaya guna.

Read More | 1 Comment →

Bagaimana Belanda bisa ‘Say Enough to Microsoft’?

Posted by Komunitas SLiMS January 12, 2011
49 views Categories: Berita

Sumber Ismail Fahmi

Pada tanggal 6 Desember 2006, delapan pemerintah kota di Belanda menandatangani Manifest van de Open Gemeenten (Overheidsorganisaties) atau Manifest of Open Governments. Kedelapan pemerintahan tersebut adalah Almere, Assen, Eindhoven, Enschede, Groningen, Haarlem, Leeuwarden dan Nijmegen. Tanggal 12 Desember, Den Haag menyusul. Dan terakhir Amsterdam, tanggal 29 Desember membubuhkan tanda tangan di atas manifesto tersebut. Mereka menyatakan bahwa untuk masa mendatang, sistem teknologi informasi dan pengadaannya di lingkungan pemerintahan harus berdasarkan pada semangat open source dan open standard.

Apa makna pernyataan ini? Kenapa ‘tiba-tiba’ pemerintah kota-kota besar di Belanda mendeklarasikannya? Bagaimana awal mulanya? Siapa saja yang terlibat? Bagaimana strategi mereka? Saya akan coba bahas di sini. Mungkin ada sesuatu yang bisa kita (bangsa Indonesia) pelajari.

ososs-manifest.gif

Openness, Makna dan Semangat Manifesto

Manifesto ini tidak menyatakan secara eksplisit penggunaan open source software (OSS) dalam persyaratan tender, namun menekankan strategi pengembangan ICT pada empat elemen keterbukaan (openness) berikut:

  • Supplier independence – memungkinkan perusahaan yang ikut tender bisa saling bersaing di antara mereka, sehingga pemerintah akan memperoleh harga/performance yang terbaik.
  • Interoperability – ini sangat penting bagi pemerintah, khususnya dalam pertukaran dokumen, email, agenda, dan GIS. Semua harus mengikuti open standard seperti yang didefinisikan oleh Program OSOSS (Open Standard Open Source Software). Tidak boleh ada persyaratan bahwa dokumen hanya bisa dibuka menggunakan software tertentu. Apapun software yang dipilih oleh sebuah pemerintahan kota, atau yang digunakan oleh pengguna, semua tetap harus bisa membuka dokumen yang dipertukarkan.
  • Transparency and verifiability – elemen ini berhubungan dengan tanggung jawab pemerintah dalam menjaga privasi data penduduknya. Untuk itu, pemerintah harus bisa mengaudit software yang digunakan, apakah mendukung pengamanan atau sebaliknya. Hal ini tentunya sulit dilakukan jika softwarenya menggunakan standard yang tertutup (proprietary).
  • Digital durability – tidak jarang sebuah software tidak dikembangkan lagi di masa mendatang (contoh Wordstar). Untuk menghindari tidak bisa dibukanya dokumen karena sudah matinya software, maka dokumen harus berdasarkan standard terbuka, dan standard ini harus dilengkapi dengan dokumentasi yang lengkap.

Berdasarkan elemen-elemen di atas, perusahaan manapun tetap bisa berkompetisi dalam tender (termasuk Microsoft dan Oracle, dll), selama perusahaan dan produk mereka memenuhi persyaratan.

OSOSS, Penggerak Utama

Siapa sebenarnya yang berperan penting dalam menggolkan gerakan open standard dan open source ini sehingga mendapat dukungan di kalangan politik dan pemerintahan? Dan bagaimana proses dari awal gagasan ini?

Proses dan persiapannya cukup panjang dan lama. Berbagai kerjasama, survey, desain, ujicoba, seminar, workshop, pembuatan portal, disseminasi informasi, dsb dilakukan oleh agen penggeraknya. Jadi, prosesnya tidak tiba-tiba.

Kementerian Dalam Negeri dan Kerajaan Belanda pada tanggal 11 April 2001 membentuk sebuah yayasan ICTU yang bertujuan membantu pemerintah mencapai hasil yang lebih baik dengan ICT (Information and Communication Technology). ICTU menggabungkan pengetahuan dan pengalaman di bidang ICT dan pemerintahan untuk menjalankan beberapa program berkerjasama dengan organ-organ pemerintah. Melalui ICTU ini, kebijakan yang berhubungan dengan e-government diterjemahkan ke dalam proyek-proyek pemerintahan. Duduk di jajaran dewan ICTU antara lain: pemerintah pusat, pemerintah propinsi, komunitas lokal, dan dewan urusan air distrik.

ICTU menyelenggarakan banyak program (saat ini terdapat lebih dari 25 program yang dibuat untuk merealisasikan kebijakan), antara lain:

  • masukan bagi pemerintah tentang akses internet
  • arsitektur e-government
  • formulir elektronik
  • e-propinsi
  • jaringan optik kecepatan tinggi
  • knowledge base
  • dan salah satunya: OSOSS (strategi software berbasis open source)

OSOSS dibentuk tahun 2003 dengan dukungan penuh dari Kementerian Dalam Negeri dan Kerajaan serta Kementerian Ekonomi. Misi utamanya adalah menstimulasi penggunaan open standard dan open source software di lingkungan pemerintahan. Program ini awalnya berjangka tiga tahun (2003-2005) dengan anggaran sebesar 3 juta euro.

Latar belakang dibuatnya program OSOSS ini berawal dari ambisi Belanda agar termasuk dalam negara yang terdepan dalam bidang ICT di Eropa, salah satunya dalam penerapan e-government. Untuk itu, infrastuktur ICT di lingkungan pemerintahan harus beroperasi dengan baik, apalagi mengingat kebutuhan komunikasi antar pemerintahan kota, propinsi, kementerian, badan, dan berbagai institusi dan organisasi yang semakin meningkat.

Salah satu masalah penting yang menghadang penerapan e-government adalah integrasi berbagai aplikasi ICT yang berbeda-beda. Alternatif solusinya mengganti semua sistem dengan satu sistem tunggal yang memenuni semua kebutuhan, atau menghubungkan sistem-sistem yang ada. Apakah anternatif ini tersedia di pasar? Apa kriteria yang harus dipenuhi oleh sistem tersebut? Bagaimana agar tidak tergantung kepada salah satu atau sedikit perusahaan penyedia? Untuk memecahkan masalah ini, ada dua subjek yang perlu perhatian serius: Open Standard (OS) dan Open Source Software (OSS).

Dalam sebuah dengar pendapat dengan DPR, Minister for Urban Policy and Integration of Ethnic Minorities, menyatakan akan membentuk sebuah program yang akan mendorong sektor publik untuk menggunakan open standard dan open source software. Selanjutnya Menteri Dalam Negeri dan Menteri Ekonomi menugaskan ICTU untuk membentuk program OSOSS untuk mewujudkan rencana ini.

Perencanaan Program

Sebelum tujuan, ambisi dan aktifitas program OSOSS ini didefinisikan, sebuah tahapan perencanaan dilakukan yang bertujuan untuk mengetahui sejauh mana sebuah program dibutuhkan untuk mencapai open standard dan OSS, dan aktifitas apa yang penting untuk mencapainya. Berikut adalah point-point penting dalam tahapan ini:

Nara sumber – tim perencana OSOSS melakukan diskusi, wawancara dan dialog dengan orang-orang dari sektor publik yang saat itu benar-benar mengalami masalah akibat kurangnya kebijakan pemerintah atas open standard dan OSS. Selain itu, diskusi juga dilakukan dengan beberapa perusahaan yang telah aktif dalam penyusunan standard dan OSS. Beberapa perusahaan yang diajak kerjasama bisa dilihat di bagian “Kerjasama” di bawah.

Dukungan terhadap program – dari serangkaian wawancara, tim perencana menemukan besarnya dukungan terhadap goal kebijakan yang akan dibuat dan meluasnya dukungan terhadap inisiatif program ini.

Temuan – preliminary study ini menemukan point-point penting yang relevan dengan pelaksanaan Program, yaitu:

  • Butuh pengetahuan dan pengalaman praktis – ini menarik: nara sumber sebelumnya sudah yakin bahwa penggunaan open standard lebih baik dari pada yang tertutup (bandingkan: bagaimana dengan pendapat nara sumber di Indonesia). Yang mereka butuhkan adalah informasi tentang berbagai OS dan pertukaran pengalaman praktis tentang bagaimana standard tersebut direalisasikan.
  • Kebutuhan terhadap open standard sering bersifat project-driven – sebenarnya, kebutuhan akan OS sering muncul dalam berbagai proyek sektor publik, namun mereka tidak tahu harus bagaimana dan dengan siapa melakukan koordinasi untuk menyusunnya. Sebagai akibatnya, dalam proyek-proyek tersebut sering dibuat lagi standard yang mirip, tanpa melihat standard dan pengalaman yang sudah ada. Akan lebih baik jika ada forum bersama yg memecahkan masalah ini.
  • Sulit mencari pendanaan untuk proyek OSOSS – Program OSOSS adalah program yang berkelanjutan, sedangkan skema pendanaan yang ada umumnya untuk proyek dengan durasi tertentu. Solusinya adalah membuat skema pendanaan yang bersifat kontraktual. (Pendanaan OSOSS pada akhirnya didapat dari NAP (National Action Programme on Electronic Super Highways). Sebelum dana dari NAP turun, OSOSS mendapat pinjaman dari Kementrian Urusan Dalam Negeri dan Kerajaan).
  • Tak banyak penolakan terhadap upaya standarisasi – Upaya standarisasi sering menerima penolakan di masa lalu, karena standarisasi identik dengan pemangkasan kebebasan. Namun, untuk open standard dan OSS ini, tidak ditemukan penolakan yang berarti, bahkan standarisasi semakin diperlukan mengingat semakin kompleksnya sistem ICT.
  • Keamanan yang dapat diverifikasi merupakan salah satu argumen untuk memilih OSS – Keamanan dan integritas data merupayakan syarat mutlak di lingkungan pemerintahan. Jika hal ini diserahkan kepada software yang proses internalnya tidak diketahui, resikonya akan besar. Oleh karena itu, OSS merupakan alternatif yang paling tepat, mengingat proses dalam OSS dapat dievaluasi dengan terbuka.
  • Khawatir menjadi menara gading – ini juga menarik: proyek atau program yang aktifitasnya adalah mengumpulkan dan menyebarkan pengetahuan, sangat potensial untuk diragukan, dinilai benar dan salah, dan dianggap seperti menara gading. Oleh karena itu, nara sumber mengingatkan, agar informasi yang disebarkan adalah informasi yang pragmatis, pengetahuan praktis, dukungan praktis, yang bisa langsung dijadikan referensi dan diterapkan. Informasi yang langsung mengenai kebutuhan di lapangan lebih dibutuhkan.

Dua Lini Aksi

Dalam sebuah dokumen yang melaporkan rencana kerja OSOSS (2004), dinyatakan bahwa OSOSS memiliki dua lini aksi (line of actions) berdasarkan tujuan program, yaitu:

  • Open Standard
  • Open Source Software

Open Standard – Tujuan Program OSOSS ini adalah mempromosikan penggunaan open standard di sektor publik, sehingga fungsi utamanya adalah memberikan informasi dan saran. Fokus program ini adalah pada pertukaran (sharing) pengetahuan dan pengalaman tentang open standard di sektor publik. Setelah melalui berbagai pertimbangan, diputuskan bahwa Program tidak bertanggung jawab atau memiliki mandat untuk membuat standard, tetapi lebih menekankan pada aspek hasil/result. Penyusunan dan pemilihan standard tetap menjadi otoritas pihak-pihak yang berkepentingan, dan Program akan memberikan informasi dan saran.

Berikut ini adalah kontribusi open standard bagi pencapaian goal kebijakan:

ososs-table1.gif

Open Source Software – Program OSOSS fokus pada pembangunan kesadaran di sektor publik Belanda bahwa OSS dapat dipertimbangkan sebagai alternatif penuh dari software proprietary. Program akan memberi dukungan kepada para pengambil kebijakan dan manajer ICT dalam memutuskan apakah akan menggunakan OSS dan membantu manajer ICT dalam menghadapi masalah yang timbul setelah memilih OSS. Untuk itu, Program OSOSS akan melakukan riset tentang TCO (total cost of ownership) OSS, dan membuat model lisensi tersendiri bagi ICT di lingkungan pemerintahan. Selanjutnya, Program akan berperan sebagai fasilitator dengan membuat platform pertukaran software, komponen software, dan distribusi software serta membuat contoh implementasi yang bisa dijadikan referensi.

Berikut ini kontribusi aktifitas yang berhubungan dengan OSS terhadap pencapaian tujuan kebijakan:

ososs-table2.gif

Kerjasama

Siapa saja yang terlibat dalam program ini? Dan apa peran OSOSS dalam kerjasama tersebut?

Jelas sekali dari paparan di atas, bahwa Program OSOSS memainkan peran sentral dalam penyiapan OS dan OSS di Belanda. Sangat penting bagi kita untuk belajar bagaimana OSOSS menjalankan tugasnya, sehingga gagasan awal yang tampaknya seperti menara gading, pada akhirnya bisa terealisasi. Istilah Belandanya adalah “Van denken naar doen“, atau “dari berpikir menuju kerja”. Salah satu kunci keberhasilan adalah kerjasama.

Sebelum ada OSOSS ini, di Belanda sudah ada banyak institusi dan perusahaan yang begerak/berhubungan dengan OS dan OSS. Akan lebih efisien dan konstruktif jika OSOSS berperan sebagai fasilitator dalam kerjasama dengan mereka. Untuk itu, dalam kerjasama ini, OSOSS akan mengumpulkan keahlian yang dimilikinya serta memanfaatkan pengetahuan dan pengalaman yang sudah ada dari partisipan program. Dalam perannya sebagai pusat keahlian (center of expertise), Program berperan sebagai jembatan: menghubungkan penawaran dan kebutuhan di bidang OS dan OSS.

Kerjasama Open Standard

  • Berbagai Inisiatif Nasional
    • NICTIZ
    • Basic Data Streamlining Programme (SBG)
    • Electronic Municipality Programme (eGEM)
    • Electronic Provinces Programme (PEP)
    • Management Council (Police)
    • Kennisnet Foundation and ICT at School Foundation
    • KIBO Programme
    • Netherlands Standardisation Institute (NEN)
    • ECP.NL
    • ICT and Administrative Assistance Programme
  • Organisasi Internasional
    • World Wide Web Consortium (W3C)
    • Internet Engineering Task Force (IETF)
    • Interchange of Data between Administrations (IDA, part of the European Commission)
    • UK government: e-Envoy
    • OASIS, in particular the e-Government Technical Committee

Kerjasama Open Source Software

  • Organisasi open source software di Belanda
    • Kennisnet Foundation
    • ICT at School Foundation
    • Defence Telematics Organisation (DTO)
    • OASE programme (implemented by Syntens)
    • opensource.pagina.nl
  • Organisasi open source software internasional
    • Open Source Initiative (www.osi.org)
    • Free Software Foundation
    • The GNU project
    • SourceFourge.net
    • BerliOS.de
    • Freshmeat.net
    • OSDir.com

Dalam realisasinya, kerjasama OSOSS dengan pihak lain semakin luas. Setiap akhir tahun diadakan simposium yang bertujuan membahas permasalahan dan kebutuhan riil di beberapa pemerintahan kota yang menjadi terget ujicoba, serta pertukaran pengalaman dalam penerapan OSS di pemerintahan. Di simposium ini, perwakilan dari berbagai institusi pemerintahan, industri, penelitian, dan universitas memaparkan laporan, solusi, atau pemikiran mereka. Indikator kemajuan pengembangan OS dan OSS bisa dilihat di simposium ini.

Aktifitas OSOSS

Faktor lain yang perlu kita pelajari dari OSOSS adalah aktifitas yang mencerminkan strategi pengembangan OS dan OSS di Belanda. Mengingat fokus OSOSS adalah untuk membangun kesadaran sehingga terjadi perubahan sikap (behaviour), maka aktifitasnya dapat dirangkum sebagai berikut:

  • membangun kesadaran
  • membuat guideline dan best practice
  • membantu dan memberi masukan

Tabel berikut menjelaskan aktiftas OSOSS yang dibagi berdasarkan fokusnya.

Open Source

ososs-aksi-os.gif

Open Soruce Software

ososs-aksi-oss.gif

Indikator Keberhasilan

Sejauh mana program OSOSS berhasil, dan apa ukurannya? Di bawah ini adalah indikator-indikator keberhasilan program sesuai dengan fokusnya.

Open Standard

ososs-indicator-os.gif

Open Source Software

ososs-indicator-oss.gif

Tim OSOSS

Berapa besar sumber daya manusia yang dibutuhkan untuk menjalankan sebuah program semacam OSOSS ini? Dan apa kualifikasi mereka sehingga bisa menjamin keberhasilan program?

Tim inti OSOSS dibuat sangat ramping, sangat kecil, agar bisa bekerja secara efisien. Typical Dutch?. Lihat diagram di bawah.

ososs-organisasi.gif

Di dalam tim OSOSS (10 orang), ada satu manajer program, satu staff komunikasi eksternal, dua orang sekretaris, dua orang manajer proyek, dan dua buah tim masing-masing di bawah manajer proyek dan beranggotakan 2 orang/tim. Kompetensi yang dibutuhkan adalah: teknis, legal / hukum, dan komunikasi.

Knowledge base dan Sosialisasi

Sekarang kita lihat apa yang dihasilkan oleh masing-masing lini proyek. Informasi ini mudah sekali didapatkan, karena semua informasi yang telah dikumpulkan disajikan dengan baik di basis data, dan bebas diakses oleh siapapun dan kapanpun.
Salah satu indikator keberhasilan program yang ada di dalam knowledge base adalah katalog hasil evaluasi dan test produk-produk open standard dan open source software yang ada di Internet. Di bawah ini contoh katalog yang bisa diakses oleh publik, khususnya untuk referensi proyek pemerintah.

Katalog Ujicoba Open Standard

ososs-os-test.gif

Total terdapat 117 open standard di Internet yang telah diujicoba.

Katalog Ujicoba Open Source Software

ososs-oss-test.gif

Total terdapat 167 open sorce software di Internet yang telah diujicoba.

Statistik informasi penting yang bisa diperoleh di knowledge base OSOSS adalah sebagai berikut:

  • 117 open standard
  • 167 open source software
  • 176 service provider/perusahaan
  • 109 produk open source

Di situs web OSOSS pengguna juga bisa mendownload atau memesan CD-Demo Open Source untuk Linux dan Windows. Jika cocok, mereka bisa langsung menginstall aplikasi perkantoran yang telah disiapkan ke dalam hard disk pengguna.

Aplikasi-aplikasi yang disediakan dalam CD tersebut adalah aplikasi yang banyak dibutuhkan dalam pekerjaan di kantor pemerintahan, antara lain:

  • OpenOffice, pengganti Microsoft Office, untuk keperluan:
    • menulis dokumen
    • spreadsheet
    • presentasi
    • membuat web
  • PDFCreator, untuk membuat file PDF
  • AbiWord (alternatif bagi OpenOffice Document)
  • Mozilla Firefox, untuk web browser
  • Aplikasi-aplikasi grafis (Gimp, dll)
  • Game

Semua aplikasi tersebut tersedia untuk lingkungan Linux dan Windows.

Selain aplikasi standard bagi pengguna di atas, OSOSS juga menjadi fasilitator bagi pengembangan sistem aplikasi pemerintahan, misalnya:

  • Database kependudukan
  • Loket Electronic
  • Otomatisasi Kantor
  • OSS di sektor Kesehatan
  • OSS di Pendidikan
  • GIS
  • dll

Proof-of-Concept

Apakah konsep open source benar-benar bisa direalisasikan di lingkungan pemerintahan, atau kah hanya sekedar menara gading?

ososs-a7proj.jpgUntuk membuktikan konsep yg dibawa oleh OSOSS, perlu ujicoba dan evaluasi POC (Proof-of-Concept) terhadap implementasi open source. Untuk tujuan ini, OSOSS bekerjasama dengan Propinsi Groningen untuk ujicoba open source di lima pemerintahan kota (municipalities) di Groningen, yang dikenal dengan nama “A7-Project”. Laporan lengkap POC ini bisa dilihat di sini (bahasa Belanda) dan versi singkat di sini (English).

Tujuan ujicoba tersebut adalah untuk mendapatkan gambaran bagaimana implementasi OS/OSS di lingkungan pemerintahan tanpa harus menghapus sistem yang sudah ada. Pengalaman baru ini sangat bermanfaat bagi pemerintahan kota lainnya di Belanda dan juga di Eropa.

Pendekatan yang dilakukan adalah dengan menunjuk sebuah perusahan independent (Footmark BV) yang sudah berpengalaman dalam migrasi sistem dari closed source menuju open source, untuk mengintegrasikan open source ke sistem yang sudah ada. Proyek dikerjakan selama 6 minggu, dengan menguji beberapa aktifitas berbasis open source seperti diperlihatkan oleh tabel di bawah.

ososs-a7.gif

Kesimpulan POC ini adalah sebagai berikut:

  • Hasilnya sama di semua (lima) pemerintahan
  • Biaya migrasi (upah buruh) lebih tinggi bagi open source (5-25%), namun biaya investasi hardware dan lisensi jauh lebih murah pada open source.
  • Ada kemungkinan penghematan dari 17.000 euro hingga 46.000 euro untuk biaya non-recurrent (misal perangkat).
  • TCO (total cost of ownership) rata-rata pada open source lebih murah 308 euro per workstation dibanding dengan pada closed source. Sudah termasuk biaya training untuk pengguna dan manager IT.

Detail Proyek

Berikut ini detail proyek ujicoba yang digelar oleh OSOSS:

  • National Agency on Watermanagement (Linux clusters)
  • Gemeente IJsselstein (PHP Nuke CMS, Firewall, Webserver etc.)
  • Waterboard Waterschap Zeeuws Vlaanderen (Linux, Squid, Samba, MySQL, Horde en veel meer)
  • Gemeente Marum (several PinkRoccade Civisionapplications on MySql/MaxDB)
  • Gemeente Amsterdam and many others (MMBase)
  • Ministery of Interior: Election Software

Proyek desktop:

  • Gemeente Vlieland (30 desktops Staroffice)
  • Gemeente Vaals (60 desktops Open Office)
  • Gemeente Woerden (300 Linux thin clients)
  • Royal Dutch Meteorological Institute (150 Linux desktops)
  • Gemeente Haarlem (1800 desktops Open Office)

The time has come to “Say Enough to Microsoft!”

Tiga tahun bukan waktu yang lama, bukan pula waktu yang singkat untuk mewujudkan sebuah impian, impian untuk bebas menentukan pilihan. Yang pasti, bukan sesuatu yang “tiba-tiba”. Ada proses yang cukup jelas, terukur, transparan, efektif, efisien, konsisten, dan penuh komitmen.

Untuk bisa berkata demikian, Belanda mulai dengan membentuk payung besar, berupa yayasan ICTU, yang kemudian membuat program OSOSS guna mempelajari dan menyiapkan OS dan OSS bagi sektor publik. Konsep diwujudkan dalam skala menengah, 5 pemerintahan kota, lalu menyebarluaskan pengetahuan dan pengalaman yang didapat kepada pemerintah kota yang lain dan kepada masyarakat. Setelah kesadaran pentingnya OS dan OSS meningkat, yang didasari oleh pengalaman dan bukti-bukti pragmatis, akhirnya di ujung tahun 2006 yang lalu Belanda membuat Manifest van de Open Gemeenten. Sebuah pernyataan yang secara halus bilang ‘Cukup‘ kepada Microsot, walau tidak ada kewajiban harus menggunakan OSS atau Free-Software.

Kombinasi Top-down dan Bottom-up

Salah satu pelajaran yang menarik dari OSOSS ini adalah keberhasilan dicapai dengan mengombinasikan dua pendekatan: top-down dan bottom-up.

Top-down – Program OSOSS diinisiasi oleh pemerintah, mendapat dukungan finansial dari pemerintah, dan terbuka kerjasama dengan organisasi dan instansi pemerintah lainnya.

Bottom-up – Proses membangun kesadaran akan pentingnya OS dan OSS dimulai dengan ujicoba skala kecil/menengah di beberapa propinsi dan pemerintah kota. Jika langsung dari atas/pusat, pasti berat karena harus berhadapan dengan lobi perusahaan software proprietary seperti Microsoft. Menargetkan ujicoba pada kelompok yang lebih kecil, akan lebih mudah. Kesadaran yang dihasilkan dengan sendirinya akan terekskalasi ketika bukti-bukti disebarluaskan melalui situs web, media, dan simposium. Akhirnya membuat komitmen di tingkat lebih atas akan lebih mudah.

Untuk Belanda saja, salah satu negara maju di Eropa yang di dalamnya OS dan OSS bukan lagi sekedar jargon atau semangat, tetapi sudah merupakan bagian dari aktifitas sebagian masyarakat dan pemerintahannya, ternyata masih dibutuhkan proses seperti di atas, apatah lagi dengan Indonesia yang faktor pendukungnya (pemerintahan, organisasi, industri, universitas, dan pengguna) belum seperti Belanda. Tentu dibutuhkan proses dan kerja yang lebih keras.

Best Practices

Apa kunci sukses yang bisa kita ambil sebagai pelajaran?

Mark Bressers, Manajer Program OSSOS, dalam sebuah presentasinya pada konferensi “Open Standards and Libre Software in Government” di Den Haag, 2004, menekankan pentingnya:

  • komunikasi, komunikasi, komunikasi
  • membangun kepercayaan (trust), melalui testing dan sertifikasi
  • membangun open standard
  • “Get the fact”, mengumpulkan data dan bukti keberhasilan implementasi OS dan OSS

Semoga bermanfaat.

Read More | 1 Comment →


    • Purwoko Admin

    • Pesan anda

      Untuk lebih ditail, atau ingin jawaban cepat, silakan kontak ke akun YahooMess di bawah ini:
      Purwoko Admin

      shoutbox
    • Awan Tag

    • Komentar Terakhir

    • Admin area

    • Arsip